Liece's Blog

November 21, 2009

sedikit kecewa

Filed under: tulisan kelas 2 hha — liece @ 11:18 am

pernahkah kamu merasakan hal yang sama ?

 

kamu berpikir dia datang disaat yang tepat

dia dahulu tak mengerti, tapi dia sedang mencoba mengerti

tapi apapun yang dilakukannya tak berarti bagimu

karena kau pikir waktu untuknya sudah habis

 

pernahkah kau merasakan hal yang sama ?

 

dimana kau pikir waktunya telah habis tetapi sebenarnya hidupmu adalah waktu untuknya

dimana kau menganggap hal yang dilakukannya adalah kosong bagimu tetapi kau hafal betul setiap detail perilakunya

saat semua habis baru kau menyadarinya

 

kenapa kebetulan kali ini begitu mengecewakan ?

tunggulah aku tuk mengerti

September 2, 2009

kuingin

Filed under: tulisanku — liece @ 1:15 pm

waktu selampau lalu

Seribu penyesalan.
Perpisahan tanpa sepatah kata.
Kulihat dia bersiap, dan akhirnya berjalan pergi.
Memanggil untuk membuatnya menoleh pun tak sanggup kulakukan.

Hanya ingin dia berkata sapa perpisahan .
Agar hati rela, tak kembali kalut lagi dan lagi.
Dia tak tahu remuk redamnya hati, hati yang tak kuasa berbuat.
Semakin letih dengan diamnya.

Buat aku rela, buat aku ikhlas.
Agar bahagia kulihat wajahmu dalam rekaman memori,
dalam lembaran album yang menjadi saksi perjalanan.

tak andai tak harap

Filed under: tulisanku — liece @ 1:10 pm

Tak terlalu tinggi kuangankan.
Dan tak terlalu manis kuharapkan.
Karena jatuh bisa sakit dan rasa bisa pahit.

Kusuka sekarang.
Tiada beban angan dan harap.
Jalan sejalan.
Terbang melayang.
Renang mengambang.

Tunggu saja angin.
Tak adapun tak apa.
Di sini masih ada udara,
meski tak bergerak.

Ah dia itu.
Tak perlu diharap atau diangan.
Cukup dilihat dan dirasa.
Biar angin yang mendorong.

Ah senyumnya itu.
Tak usah mencoba membuatnya nampak.
Biarkan saja nanti juga muncul.

Ah matanya itu.
Ah hidungnya itu
Ah rambutnya itu.

Ah hatinya itu.
Yang takkan kuselami.
Biarlah kulihat permukaan hatinya.
Tapi rongga dalam hatinya, biar dia yang tahu.
Dan orang yang ingin dia tahu yang tahu.

Cukup di sini.
Merasa yang ada.
Melihat yang nampak.
Dan tersenyum cukuplah.

Mengharap butuh hati.
Mengandai butuh pikiran.
Tapi keduanya takkan kugunakan kali ini.

Kusuka kau tapi tak kuharap.
Kupuji kau tapi tak kuandai.

21.18 24.07.09

Filed under: tulisanku — liece @ 12:56 pm

Mendung seharian. Beberapa waktu gerimis. Tak tahu alam tahu dilemanya atau bagaimana. Dia yang hampir meninggalkan kota dan kenangan, kawan dan cinta. Hanya jarak, tapi jarakpun juga merupakan besaran pemisah. Dia kira waktu ini takkan hadir. Mungkin masih akan menunggu dua bulan lagi, kemudian satu bulan, tiga minggu, satu minggu, tiga  hari, akhirnya sampai juga. Sebelumnya memang sudah ada kata yang dia harap mampu menguatkan cintanya agar kuat dan percaya padanya. Tapi sebenarnya kata-kata itu juga diharap mampu meredam gejolaknya sendiri. Tanpa keluarga dia berusaha mandiri, tanpa kawan dia akan dapatkan yang mampu mengisi harinya, tetapi tetap berhubungan dengan kawan lawas. Tetapi tanpa cinta di sampingnya. ? Cintanya yang  berbeda dengan artis idolanya. Tapi cintanya memang yang benar-benar ia butuhkan, sebagai penyelaras hidupnya.
Antara semangat dan lunglai. Dunia baru dan citanya dengan kenangan kawan dan cinta. Ah, klise. Sinetron. Dulu. Tapi pastinya sinetron ada karena ada pengalaman. Sekarang dia yang kebagian mendapat pengalaman. Bola mata yang bundar dan mungil badan cintanya ingin ia dekap kembali. Dia ingat bagaimana dahulu ia meyakinkan cintanya, menghapus air mata dan memberikan senyum mantap agar cintanya tak kalap ditenggelamkan rasa kehilangan.
Pukul 21.05. ada cintanya disamping. Kawan-kawan juga sudah berkumpul. Dia berfikir,dulu sutradara sampai malu memakai latar stasiun atau bandara dalam scene perpisahan, tapi tak ada film atau sinetron kali ini. Sejarah yang akan tinggal di sini. Semua kawan ia jabat, kawan yang memberinya rangkaian abjad hingga tertulis cerita manis yang diberi judul SOLACE. Tapi sebenarnya antara ragu dan ingin memandang mata cintanya. Ia ragu karna takut mata peri ini basah hingga ia tak sanggup beranjak. Tapi ia ingin membawa sebanyak-banyaknya rekaman memori akan pengisi hatinya. Dalam dan sedikit remuk.
Menata barang di atas dan di bawah tempat duduknya hampir rampung. Kawan-kawan berteriak di luar gerbong memberi sejuta pesan dan seribu harap agar ia akan tetap menjadi teman baik mereka. Tapi si manis ini ada di sampingnya. Sejuta kata ingin kasihnya ini ucapkan, tapi tertahan karena sejuta kata itu berlomba meluncur dari mulutnya. Semua kata-katanya tergantikan oleh cucuran air matanya yang tak disuruhnya namun keluar begitu saja. Siapa yang akan memberinya senyuman hangat besuk. ? Siapa yang akan datang ke rumahnya dengan membawa makanan berbeda tiap minggunya, ? Sejuta pertanyaan yang menggambarkan rasa kehilangan menyeruak di benak cintanya hingga semakin deras aliran air mata cintanya itu. Dia.  Betapa berat dan sakit ia melihat kasihnya menangis tanpa daya. Perasaan yang terluka, bukan badannya, sehingga ia untuk pertama kalinya menangis karena terluka. Sebentar memeluk kasihnya dan yakinkan kasihnya dalam keyakinan yang dipaksakan agar bertahan di sini. Memohon seribu doa dan kepercayaan, karna ia tahu kasihnya cepat atau lambat takut kehilangannya.
21.18. Ia dan cintanya sudah berada dalam bagian yang berbeda. Kini lantai yang dipijaknya sudah berjalan, meninggalkan lantai cintanya. Segerombolan kawannya melambaikan tangan, iapun melambaikan tangannya tetapi matanya terpaku pada gadis bersampul jaket putih itu.

Mampukan dirimu, semampu-mampunya
Yakinkan dirimu,seyakin-yakinnya
Jika aku pergi untukmu, maka aku akan datang lagi untukmu
Dengan hati yang masih utuh dan perasaan yang masih sama
Kuatkan aku, sekuatmu
Pegang aku, seeratmu
Kasihmu menemaniku dan doamu melindungiku
Katakan padaku kalau kau sanggup
Tapi katakana pada-Nya kalau kau tak sanggup
Jaga dirimu, jaga diriku
Hias cintamu, hias cintaku.

Datang lagi, sebagai aku
Aku yang akan lebih baik, tetapi tetap aku
Aku yang milikmu, aku yang mencintamu.
Sambutlah aku,sebagai kamu
Kamu yang lebih tulus, tetapi tetap kamu
Kamu milikku,kamu yang mencintaku.
Tetap jadi penyelarasku.

kami berduka

Filed under: tulisanku — liece @ 12:26 pm

Kuselusuri lorong itu. Kucari-cari sambil melihat papan yang ada di setiap persimpangan. Kukira takkan ada yang terlalu berbeda. Setiap kali memang ada kejutan-kejutan kecil darinya. Kadang membuatku iri, ah bukan iri,kagum. Aku tak sepandai dia,entah memadupadankan warna dan model, atau dalam membuat diri tampak anggun. Pink dan hitam.

Kulewati jalan yang lebih terang,tetapi tetap saja muram. Ada gerombolan kecil di tepi. Ah itu dia. Feminin. Di rambut yang sedikit lebih panjang dari terakhir kulihat tertempel bando dengan hiasan kupu kecil di bagian kanan.

Tetapi ada yang berbeda kali ini, sangat berbeda. Matanya. Setiap bertemu,kami selalu berteriak ceria saling memanggil. Tidak kali ini. Dia menatapku dengan sisa-sisa air mata dan menyebut namaku lirih. Glek :~. Tetapi teman sampingku yang sedikit dibelakangku memanggil namanya riang. Ah, salah gaya pikirku. Dia merasa,lalu merubah rona wajahnya.

Kuhampiri, lebih dekat , semakin jelas, ia terisak dan sebentar kupeluk,kemudian berganti temanku. Mamanya, sama, menangis. Kujabat. tetapi kata-kata menenangkan gagal keluar dari mulutku. Hanya wajahku yang kurasa sedikit tertekuk ingin mengambil sedikit kesedihannya.

……

Tak terdengar jelas bagaimana kronologisnya,hanya motor papa, ring road dan mobil yang terdengar jelas dari sela isak tangisnya. Tanganku di belakang punggungnya, kuusap-usap tanda ingin menenangkan. Tapi berat ingin bersuara. Bersuara apa. ? sabar, sudah kuulang ratusan kali. Tenang, sama. Apalagi. ? tak tahu.

UGD kemudian ICU. Detak jantung memakai alat, tapi aku tak tahu alat yang mana itu,banyak alat disitu. Mungkin teman sampingku,calon dokter, yang tahu. Dari pagi sampai sore itu belum sadar. Bagaimana rasanya. ? apa dia sedang berfikir. ? atau jalan melayang dan melihat putrinya terisak. ? atau. ? ah, tak tahu.

Kerabat dan tetangga, mungkin, juga ikut melihat dari balik jendela. Ada yang bilang kasihan, pasti sembuh,dan banyak kata lagi. Tetapi ada yang menangis lebih keras dibandingnya. Bagai diremas jantung kami. Teman lawasku kini sedang tenggelam dalam kesedihannya. Kuingat dia,kuingat papa dia, kulihat dia,kuingat mama dia, kulihat mama dia. sakiiitt. Ternyata jauh lebih sakit dan jauh lebih miris dibanding di tv. Beda ya sama di tv. ? teman sampingku mengatakan apa yang kupikirkan. He’em.

24 jam (sepertinya tepat) setelah dengan berat hati kami beranjak…

Sabar, mama, sabar, dimana, sabar, tenang, sabar, besuk, sabar , Tuhan. Dalam telepon.

Sejarah. Kenangan.

Kubenci hal itu.

Karena yang ada saat yang lain tak ada.

Yang lebih kaya saat yang lain lenyap.

Yang muncul saat yang lain musnah.

.jangan jadikan dia sejarah…

Dia bisa menyayangi. Sejarah. ?

Dia bisa memberi. Kenangan. ?

Tak usah berandai karena mesin waktu memang taka da (kata ucup)

Tak usah berandai, karena saat “andai”an itu selesai, kau akan jatuh lebih sakit.

Bagikanlah saja kesedian itu pada kami.

Supaya meski sakitpun, itu lebih ringan.

Supaya meski hancurpun, itu tak lebur.

::papamu jadi bagian papaku. Kini masih ada ayahku, dia pasti tak keberatan jadi bagian ayahmu::

July 21, 2009

-biasa-

Filed under: tulisanku — liece @ 5:05 am

satu ini mungkin akan ada tetap disini.
meski sudah kusiapkan kata-kata, dengan lebih sekedar rapi.
kucari padanannya agar tak terlihat ganjil,untuk telingaku saja.
kuingin yang biasa saja.
hanya sebuah yang biasa dan dengan kata yang biasa.

tapi sepertinya tidak bisa hanya biasa.
dia tidak biasa melihat aku biasa.
mereka juga tak menganggap kami biasa.
padahal biasa,kuingin mereka pikir.
tapi nyatanya sedikit tak biasa.

jika ke’biasa’anku berfikir tentang ini.
ah biasa,kan biasa saja.
katakan dan berikan dengan biasa saja.
toh tak ada yang luar biasa.

jika ke’biasa’anku diputar,atau cukup dibalik.
ketidak’biasa’an.
sebiasa-biasanya kamu biasa,tetap tak biasa.
sekarang saja sudah terlihat tak biasa.
besuk bertemu,setelah berikan sesuatu yang (kupikir) biasa,pasti lebih tak biasa jadinya.

coba pikir biasa
karena aku ingin semua biasa
kalaupun ada yang sedikit tak biasa,itu milikku saja.

-untuk yang (kali ini) sedikit tak biasa-

Blog at WordPress.com.