September 2, 2009 by liece
Mendung seharian. Beberapa waktu gerimis. Tak tahu alam tahu dilemanya atau bagaimana. Dia yang hampir meninggalkan kota dan kenangan, kawan dan cinta. Hanya jarak, tapi jarakpun juga merupakan besaran pemisah. Dia kira waktu ini takkan hadir. Mungkin masih akan menunggu dua bulan lagi, kemudian satu bulan, tiga minggu, satu minggu, tiga hari, akhirnya sampai juga. Sebelumnya memang sudah ada kata yang dia harap mampu menguatkan cintanya agar kuat dan percaya padanya. Tapi sebenarnya kata-kata itu juga diharap mampu meredam gejolaknya sendiri. Tanpa keluarga dia berusaha mandiri, tanpa kawan dia akan dapatkan yang mampu mengisi harinya, tetapi tetap berhubungan dengan kawan lawas. Tetapi tanpa cinta di sampingnya. ? Cintanya yang berbeda dengan artis idolanya. Tapi cintanya memang yang benar-benar ia butuhkan, sebagai penyelaras hidupnya.
Antara semangat dan lunglai. Dunia baru dan citanya dengan kenangan kawan dan cinta. Ah, klise. Sinetron. Dulu. Tapi pastinya sinetron ada karena ada pengalaman. Sekarang dia yang kebagian mendapat pengalaman. Bola mata yang bundar dan mungil badan cintanya ingin ia dekap kembali. Dia ingat bagaimana dahulu ia meyakinkan cintanya, menghapus air mata dan memberikan senyum mantap agar cintanya tak kalap ditenggelamkan rasa kehilangan.
Pukul 21.05. ada cintanya disamping. Kawan-kawan juga sudah berkumpul. Dia berfikir,dulu sutradara sampai malu memakai latar stasiun atau bandara dalam scene perpisahan, tapi tak ada film atau sinetron kali ini. Sejarah yang akan tinggal di sini. Semua kawan ia jabat, kawan yang memberinya rangkaian abjad hingga tertulis cerita manis yang diberi judul SOLACE. Tapi sebenarnya antara ragu dan ingin memandang mata cintanya. Ia ragu karna takut mata peri ini basah hingga ia tak sanggup beranjak. Tapi ia ingin membawa sebanyak-banyaknya rekaman memori akan pengisi hatinya. Dalam dan sedikit remuk.
Menata barang di atas dan di bawah tempat duduknya hampir rampung. Kawan-kawan berteriak di luar gerbong memberi sejuta pesan dan seribu harap agar ia akan tetap menjadi teman baik mereka. Tapi si manis ini ada di sampingnya. Sejuta kata ingin kasihnya ini ucapkan, tapi tertahan karena sejuta kata itu berlomba meluncur dari mulutnya. Semua kata-katanya tergantikan oleh cucuran air matanya yang tak disuruhnya namun keluar begitu saja. Siapa yang akan memberinya senyuman hangat besuk. ? Siapa yang akan datang ke rumahnya dengan membawa makanan berbeda tiap minggunya, ? Sejuta pertanyaan yang menggambarkan rasa kehilangan menyeruak di benak cintanya hingga semakin deras aliran air mata cintanya itu. Dia. Betapa berat dan sakit ia melihat kasihnya menangis tanpa daya. Perasaan yang terluka, bukan badannya, sehingga ia untuk pertama kalinya menangis karena terluka. Sebentar memeluk kasihnya dan yakinkan kasihnya dalam keyakinan yang dipaksakan agar bertahan di sini. Memohon seribu doa dan kepercayaan, karna ia tahu kasihnya cepat atau lambat takut kehilangannya.
21.18. Ia dan cintanya sudah berada dalam bagian yang berbeda. Kini lantai yang dipijaknya sudah berjalan, meninggalkan lantai cintanya. Segerombolan kawannya melambaikan tangan, iapun melambaikan tangannya tetapi matanya terpaku pada gadis bersampul jaket putih itu.
Mampukan dirimu, semampu-mampunya
Yakinkan dirimu,seyakin-yakinnya
Jika aku pergi untukmu, maka aku akan datang lagi untukmu
Dengan hati yang masih utuh dan perasaan yang masih sama
Kuatkan aku, sekuatmu
Pegang aku, seeratmu
Kasihmu menemaniku dan doamu melindungiku
Katakan padaku kalau kau sanggup
Tapi katakana pada-Nya kalau kau tak sanggup
Jaga dirimu, jaga diriku
Hias cintamu, hias cintaku.
Datang lagi, sebagai aku
Aku yang akan lebih baik, tetapi tetap aku
Aku yang milikmu, aku yang mencintamu.
Sambutlah aku,sebagai kamu
Kamu yang lebih tulus, tetapi tetap kamu
Kamu milikku,kamu yang mencintaku.
Tetap jadi penyelarasku.